Postingan

Mengalirkan Waktu dengan Kafeina di Nadiku

Gambar
Waktu tak mengalir jika kau tak berkhayal, kata Orhan Pamuk, dalam bukunya My Name is Red. Dan itulah yang aku rasakan ketika aku buntu, berjam-jam duduk di depan laptop, dengan catatan kecil yang lesu berdampingan dengan pulpen merah di kiri laptop. Di kanan, lembar-lembar kertas yang suci atau penuh coretan, ditindih ponsel yang terus diam, namun menggoda supaya aku menyentuhnya. Di pojok meja tumpukan buku hampir jatuh. Semuanya diam. Bahkan jari-jariku sendiri, hanya ada sedikit gerakan dari kedua telunjuk yang mengelus huruf F dan J yang diam. Berjam-jam terasa sama sekali tidak berlalu. Aku merasa terjebak di galaksi luar di mana masa tidak berlaku, sama sekali tidak ada yang terjadi, hanya melayang-layang di sana, menunggu orbit mengeluarkanku dari putaran kekosongan, dan mengembalikan ke kenyataan. Lalu jemariku mulai kesal mengacaukan rambut yang dirapikan sisir tadi sore.
Aku sering kali merasa seperti itu di dingin malam, ketika aku ingin melanjutkan novelku—yang tak selesai…

Lubang

Aku duduk di langkan jembatan tua hanya memakai celana bokser dan kaus kumal. Orang lewat yang sekilas melihat ke arahku, mungkin mengira aku seseorang yang sedang memancing, sama seperti mereka yang duduk di sepanjang jembatan ini, mereka datang dan pergi lewat di belakangku yang memandang gemerlap lampu dan keramaian lalu lintas jembatan baru. Para pemancing hening seolah itu syarat utama memancing. Mereka duduk menunduk, entah melihat umpan pancing yang jauh di bawah sana terbawa arus kemarau sungai Bengawan Solo, atau meratapi nasib di belakang mereka yang juga menunggu di depan mereka.
Tapi tentu saja aku tidak sedang memancing, aku sedang ngopi bersama segerombol temanku. Benar-benar segerombol.
Dua jembatan bersisian, yang tua dan baru, keduanya sama-sama sudah lama berdiri menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kini hanya satu yang digunakan sebagai jalan raya, sementara yang satu adalah tempat lain-lain: ada angkringan di kedua ujungnya seolah mereka tidak mengizinkan kau da…

Sore yang Indah, 6 Juli 2017

Sore yang indah untuk menikmati secangkir teh hangat di beranda rumah, namun aku malah pergi untuk segelas kopi dingin bersama seorang temanku—seharusnya ini menjadi sebuah reuni dengan teman yang satunya lagi karena lama tidak bertemu, namun saat teman lama itu dihubungi tidak merespon, padahal dia sudah berjanji, akhirnya kami pergi berdua saja ke kedai kopi.
Suasana saat kami datang cukup sepi, hanya ada segerombol pemuda di tempat duduk di dekat kasir, pasangan pemuda pemudi yang terlihat mesra sedang berpegang tangan, dan entah mengobrolkan apa sesekali menyesap minuman mereka; datang beberapa orang lagi, beberapa laki-laki yang datang bersama beberapa gadis berjilbab dan seorang gadis berbaju merah dengan rambut hitam terurai memakai rok mini dengan warna senada memperlihatkan pahanya yang kecil tapi tetap membuatku ingin melihat apa yang tersembunyi di balik rok itu, kemudian mereka naik ke lantai dua. Orang-orang yang lain sibuk dengan apa yang mereka lakukan tanpa memperhatika…

Tentang Teh dan Nafasku

Aku cukup yakin kalau kau melihat rambu peringatan di sepanjang jalan dengan tulisan bahwa jalan itu berbahaya, kau akan lebih yakin kalau jalan itu memang berbahaya jika dalam rambu itu ada gambar tengkorak manusia dan tulang menyilang di bawahnya.
Namun tidak di masa sekarang, aku sudah lama tidak bermotor di jalan yang dianggap berbahaya, dan sekarang aku melihat rambu peringatan bahaya itu tidak semenyeramkan seharusnya.
Yang aku lihat di rambu peringatan jalan rawan kini adalah semacam banner bertuliskan “Hati-Hati!!! Jaga Keselamatan, Rawan Kecelakaan.” Atau seperti itulah. Ya, aku cukup yakin mereka menggunakan tiga tanda seru, terlihat tegas sekali, bukan? Juga sedikit berima, seharusnya mereka membuat puisi agar lebih bagus, siapa tahu para pengendara ugal-ugalan ingin menyempatkan diri untuk membacanya.
Dan di atas tulisan itu bukannya gambar tengkorak, tapi adalah gambar sekumpulan polisi berseragam cokelat seperti pramuka dengan topi kebanggaan mereka. Sehingga aku bertanya, …

Aku Hanya Ingin Mengatakan Kalau...

Ya begini, waktu itu di kedai kopi, malam hari.
Beberapa menit sebelum waktu shalat Isya, aku pergi sendiri ke kedai kopi yang terdekat dengan rumahku, sebelumnya aku sudah sholat, karena tentu saja walaupun aku bukan fanatik, aku adalah orang yang tidak terlalu buruk dalam beragama. Ya, itu menurutku.
Kalau tidak salah, tiga menit lebih empat puluh tujuh detik aku sampai ke kedai itu dengan menggunakan motor.
Seperti biasanya aku mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah untuk cappuccino, lalu setelah itu aku duduk di meja yang paling luar, suasana cukup sepi ketika aku datang, hanya ada beberapa orang yang sibuk mengobrol dengan temannya, dan juga sepasang kekasih yang tampak serius, aku harap mereka tidak akan putus.
Aku duduk sendiri, dan membuka laptopku sembari menunggu pesananku, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan, walaupun sebenarnya bukan pekerjaan, karena tentu saja aku adalah pengangguran paruh waktu. Beberapa saat setelah itu pesananku datang, dan aku mengeluarkan buku…

Apa yang Aku Pikirkan Ketika Aku Berpikir Tentang Kehilangan

Gambar
Aku menghela nafas dan kutinggalkan meja berantakan penuh hal yang—di anggap orang-orang—tidak berguna, lalu pergi ke dapur untuk segelas air, aku tuangkan air kendi ke gelas, aku suka air kendi, dingin yang alami membuat diriku menikmati kesegaran sesungguhnya yang mungkin kini sudah hilang karena lemari es, sederhana sekali, bagaimana sebuah teknologi menghilangkan sesuatu yang alami, aku tersenyum, mungkin inilah sebuah contoh kehilangan dan juga bagaimana mengatasinya, namun aku rasa hal ini terlalu sederhana untuk merayu seorang editor.
Aku duduk di meja makan dan meneguk air itu dengan perlahan, aku tidak bisa minum dengan cara berdiri, entah kenapa. Setelah kosong, aku letakkan gelas itu di sampingku, aku melihat kucingku, kucing berwana cokelat yang sedang terbaring miring di atas keset sembari menyusui anaknya yang juga cokelat. Beberapa hari lalu, kucing itu memiliki tiga anak, yang lainnya putih dan belang, tapi ibuku memeberikannya ke tetangga—setidaknya ia tidak membuangny…

It's Still Cloudy

I am in a coffee shop, I just order a coffee on cashier and pay it directly, and then I looking for a seat, seeing around, just a group of young boys with a high school uniform, sat on wooden chair around the table, and near entrance, there’s a girl with pink hijab sat alone, look like waiting for someone, she watched on her smartphone and then watching outside, drink her americano ice using the straw. I walked to her, but actually not for sit with her, I just want go outside. It is a cloudy day, but I think it wouldn’t be rain, its better when I sit in front of coffee shop, watching on the street, let the wind blow my face and mind, bellow a big umbrella—I don’t know the name, I just call it big umbrella.
There is no one outside.
So, I think it’s good for me, I look to ceiling in top of my head, I mean umbrella, I sit down on wooden teak chair, look like made from root of teak by local craftsman. I put my bag on the table—made from teak wood too. I draw out my laptop, then turn on. I t…